Tampilkan postingan dengan label book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 November 2013

Countdown to Catching Fire

Katniss Everdeen

Tanggal 22 November 2013 Film Catching Fire resmi dirilis ke publik. Buat menyegarkan kembali ingatan tentang ceritanya, kali ini aku posting tentang review bukunya. 

“Api pemberontakan sudah tersulut. Dan Capitol ingin membalas dendam.”

Catching Fire merupakan sekuel kedua dari Trilogi The Hunger Games yang terbit tangal 1 September 2009 di Amerika (bulan Juli 2010 di Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama) setelah novel pertamanya, The Hunger Games laris di pasaran US dan bahkan internasional.
Kisah trilogi The Hunger Games berlanjut ketika Katniss Everdeen, bersama teman satu distriknya, Peeta Mellark, berhasil mengelabui Capitol dan memenangkan The Hunger Games. Catching Fire menceritakan kehidupan Katniss setelah ia menjadi pemenang dan merasakan kemewahan yang diberikan oleh Capitol padanya dan Peeta. Namun Katniss dan Peeta tidak merasa senang, melainkan menyesal dan merasa berdosa karena menyebabkan peserta lainnya tidak selamat. Perasaan menyesal itu bertambah ketika Tur Kemenangan keliling Distrik diadakan, dimana Katniss dan Peeta harus berhadapan dengan keluarga peserta yang tidak selamat di Arena dan menyampaikan permintaan maaf kepada penduduk distrik yang telah kehilangan slaah satu anggota distriknya.
Capitol yang sebelumnya marah akibat perlakuan Katniss dan Peeta yang mengelabui mereka dalam Games, jadi semakin panas. Mereka menganggap Katniss dan Peeta telah memulai pemberontakan. Maka di tahun berikutnya, Capitol mengadakan Quarter Quell (perayaan The Hunger Games ke 75) dan berbeda dengan tahun sebelumnya, Capitol memutuskan untuk mengambil peserta dari para Pemenang The Hunger Games yang masih hidup. Katniss dan Peeta, yang belum selesai menghadapi trauma pasca games, diharuskan untuk ikut dalam perayaan tersebut dan kembali ke Arena untuk bertarung sampai mati melawan Pemenang Hunger Games ditahun-tahun sebelumnya. (Sumber : http://hungergamesina.wordpress.com/the-hunger-games-trilogy-in-bahasa/catching-fire/)

Kamis, 19 September 2013

Rumah Baca

Pada hakikatnya jauh di dasar hati 
aku sangat Cinta Membaca 
namun kini kenyataan yang terjadi sungguh pilu, 
lebih Cinta Membeli Buku




Toko Buku selalu menjadi momok dalam hidupku. Tempat yang rindu untuk kudatangi dan tempat yang kadang harus selalu kuhindari. Kalo udah masuk ke toko buku, termasuk toko buku online jugabawaannya kalap terus..
Saat ini masih ada berpuluh-puluh buku yang kubeli masih tersimpan rapi di dalam plastik pembungkusnya, hiks..Sekitar 20 buku yang aku beli waktu Om Gol A Gong lagi cuci gudang, sama sekali tak tersentuh. Juga masih banyak buku lain yang bernasib sama. 
Bukannya aku tak pernah lagi membaca buku sih, masih sama seperti dulu, di tempat tidur tak pernah sepi buku. Bacaan sebelum tidur masih terus berlanjut tapi ada kebiasaan jelek dalam membaca buku, yaitu pake acara gonta-ganti buku padahal belum tamat. Yasudahlah walo waktu takkan mau menunggu, suatu saat nanti satu persatu buku akan habis kulahap :D

Ganti topik ah..
Sejak jaman berburu dan meramu dulu aku berkeinginan untuk membuat sebuah "rumah baca". Aku menyebutnya demikian, lebih sederhananya sebuah perpustakaan, atau bahkan berpuluh-puluh buah pun juga mau. Sebuah tempat yang penuh dengan buku-buku tercinta. Sungguh sangat menyenangkan membayangkan aku berada di ruangan yang dipenuhi hal yang aku cintai, banyak orang yang nantinya akan berkumpul di sana, membaca buku-buku berat ala filsafat atau sekedar asyik membaca komik, pastinya nanti di rumah bacaku ada satu tempat khusus untuk menyimpan harta karun ONE PIECE. Selain sebagai perpustakaan tempat tersebut juga akan kujadikan sebagai markas untuk yang Cinta Menulis. Saling bercengkerama bersama, berbagi ilmu.
Di rumah aku lagi krisis rak buku, satu-satunya rak buku yang kupunya sudah penuh. Sebenarnya waktu beli lemari buku itu kurang berfikir tentang sisi fungsional, jadi lemari buku hanya terdiri dari 3 sekat dari kaca pula, lebih cocok buat lemari pajangan. Namun bagaimana pun juga aku sering berangan-angan, lemari buku itu adalah salah satu benda penting yang akan kuselamatkan untuk pertama kali jika terjadi kebakaran atau musibah lainnya, hihi..

lemari buku yang nelangsa, dipaksa bermuatan lebih...

Waktu nyari inspirasi bikin rak buku mudah, murah,untuk saat ini prioritas yang murah dulu, dan pasti tetap sedap dipandang mata, aku nemu posting tentang Rak Buku Tembus Pandang. Rak buku unik yang dirancang oleh Miro Lio ini memang lain dari model rak pada umumnya. Selain sederhana cara pembuatannya, fungsinya pun memberi kesan simple dan unik dimana buku yang diletakkan diatasnya nampak seolah melayang tanpa penyangga.

Gini cara bikinnya:

Siapkan plat besi berbentuk L, jangan lupa beri pengait pada bagian bawah agar sampul bagian bawah tidak bergelantungan



Nah..mudah kan cara membuatnya..
cantik lagi
cuman
mikir-mikir juga, butuh plat yang kuat untuk buku-buku yang tebal
daaaan....
kebayang susahnya waktu ambil buku paling bawah
jadi sebaiknya tumpukan buku gak usah banyak-banyak

Yuuuk bikin.......






Sabtu, 23 Maret 2013

The Hunger Games Trilogy



Orang-orang biasa menyebutnya honeymoon, hari-hari ketika pasangan dimabuk asmara, hati tengah berbunga-bunga, tak ada yang lebih sesuai untuk menggambarkannya selain manisnya madu.

Dimulai April tahun kemarin, setelah acara resepsi pernikahan, kami juga mempunyai rangkaian acara yang orang-orang sebut honeymoon, namun kami mempunyai definisi sendiri tentang honeymoon, ya kami menamainya sepanjang perjalanan kami dahulu,sekarang, atau pun nanti honeymoon, berharap apa pun yang telah, yang sedang, atau yang kelak kami hadapi akan selalu membuat hidup kami semakin manis.

Kami memutuskan untuk menonton pada kencan malam itu dan The Hunger Games lah yang secara tidak sengaja terpilih untuk menorehkan kenangan manis dalam perjalanan kami. Ironi memang, film menegangkan yang terpilih bukannya film yang bertabur kisah romantis yang menemani honeymoon kami.

Sejak saat itulah aku jatuh hati pada Hunger Games. Ketika pulang ke rumah, kami berdua asyik membahas adegan-adegan dalam Hunger Games, walaupun menurut suami ada beberapa adegan yang aku salah sangka :D. Sampai-sampai terbakarnya kulit punggung dan leher suami akibat berjemur di pantai ketika liburan pun kami hubungkan dengan hunger games. Sekarang baru terpikir mungkin sebutan Mockingjay, Sang Lelaki Terbakar cocok untuk suami :))

Hari berganti bulan, kanvas perjalanan tak lagi bidang putih, bukan hanya selalu warna-warna cerah nan indah namun terkadang warna hitam pun tergores di sana, pahit manisnya perjalanan tetap kami namai honeymoon.

Yeay...Mei pun semakin berwarna dan semakin manis dengan datangnya Buku Trilogi "The Hunger Games" kado dari Sang Pujaan Hati ;)

lovely books from my love


Suami membaca buku pertama dari The Hunger Games Trilogy, Hunger games. Ternyata gambaran fisik tokoh di dalam buku ada beberapa yang berbeda dengan di film. Sedang aku diburu rasa penasaran, langsung mebaca buku ke dua yaitu Catching Fire. Namun karena malas dan tergoda oleh berbagai kesibukan baru, lama buku ke dua teronggok tak berdaya di atas cpu kantor. Dan baru kembali bernyawa beberapa bulan ini.

Jreng...jreng...

Saya Prajurit Everdeen Perwakilan Kepanjen hari ini resmi menyatakan selesai membaca buku ke dua Catching Fire dan Buku Ke tiga Mockingjay dari The Hunger Games Trilogy :D

Cerita Collins sangat memukau, tokoh-tokohnya,setting tempatnya, jalan ceritanya penuh kejutan....

Buat yang penasaran ceritanya atau segala macam tentang hunger games, cekidot di situs The Hunger Games Indonesia http://hungergamesina.wordpress.com/

Can't wait that day
Books Review (Part  I)
(sumber http://hungergamesina.wordpress.com/)
"Dua puluh empat peserta. Hanya satu pemenang yang selamat.”
 
The Hunger Games merupakan novel karya Suzanne Collins yang diluncurkan pada tanggal 14 September 2008 di Amerika (bulan Oktober 2009 di Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama) dan menjadi buku Best Seller disana.

The Hunger Games mengambil setting di masa depan ketika Amerika Utara hancur dan terbentuklah satu wilayah baru yang bernama Panem. Panem merupakan wilayah yang terdiri dari 12 distrik miskin dan dipimpin oleh pemerintahan yang kaya namun serakah dan bengis , yaitu Capitol.

Tiap tahunnya, Capitol menggelar event meriah yang dinamakan Hunger Games. Hunger Games merupakan permainan yang diusung oleh Capitol untuk mengingatkan para penduduk distrik bahwa tidak ada satupun yang bisa memberontak dan mengalahkan Capitol.

Setiap distrik akan mengorbankan 2 anak (laki-laki dan perempuan) yang berusia 12-18 tahun dan nantinya akan dibawa ke Capitol untuk dilatih, dan akhirnya ditaruh di satu arena yang memaksa mereka untuk membunuh satu sama lain. Peserta yang terakhir bertahan, maka akan dijadikan sebagai pemenang, dan dia beserta distriknya akan mendapatkan persediaan makanan selama setahun.

The Hunger Games bergenre Science Fiction dan memakai sudut pandang pertama, yaitu sudut pandang sang tokoh utama, Katniss Everdeen. Pembaca akan dibawa langsung kedalam pikiran dan emosi Katniss saat ia menempuh pengalamannya menjadi salah satu penduduk distrik yang terpilih menjadi peserta The Hunger Games.

Yang menarik dalam buku The Hunger Games ini ialah bagaimana sang penulis mampu memasukkan berbagai bidang kehidupan, seperti sosial, politik, kemanusiaan, dan ekonomi kedalam cerita fiksi yang karakternya kebanyakan remaja.

Happy Reading.....