Tampilkan postingan dengan label writing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label writing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 November 2013

Mutiara dari Semarang (my old short story)


Pertama kali menginjakkan kaki di Semarang, kota seribu mimpi, membuat dadaku bergemuruh. Betapa tidak, bertahun-tahun yang lalu semua pikiranku, ku isi hari-hariku untuk bisa berada di kota ini. 

Berawal dari buku usang yang kutemukan di gudang rumahku.


Halaman satu 


Cahaya sungai turun ke tangga batu besar ini, diwarnai oleh kaca yang filter, sungguh luar biasa..




Satu kalimat itu lah yang kutemukan pada halaman pertama buku itu. Aku tak mengerti apa makna dari rangkaian kata di sana. Rasa penasaran mendorongku untuk menggerakkan tanganku membuka halaman selanjutnya.
                                                                              >----I>


“Bee!!” kudengar namaku tengah dipanggil oleh suara yang tak asing lagi di telingaku walaupun mungkin ini sudah tahun ke tiga sejak aku berpisah dengannya.


Seorang gadis mungil keluar dari kerumunan para penjemput penumpang kereta di pintu keluar Stasiun Semarang Poncol. Dia masih Rani-ku yang dulu, gadis manis yang selalu berpakaian rapi. 


Ayo cepat “Batu”, aku sudah tidak sabar ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.” Hm..sudah lama tak kudengar nama panggilan itu, memang sahabatku ini lah satu-satunya yang memanggilku demikian.


Rani segera menarik tanganku sambil memberi tanda supaya aku menurut dan mengikuti saja inginnya.


Dalam hitungan menit aku telah melaju dalam hiruk pikuknya lalu lintas kota Semarang.


Iseng aku mengajukan sebuah tebakan kepada Rani, “Tahu tidak kenapa kota ini disebut Semarang?”


“Pasti lah tahu, aku kan asli putri kota Semarang. Dulu ada seorang dari kesultanan Demak bernama Pangeran Made Mandan bersama putranya Raden Pandan Arang, meninggalkan Demak menuju ke daerah Barat, di suatu tempat yang kemudian bernama Pulau Tirang, membuka hutan dan mendirikan pesantren serta menyiarkan agama Islam. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur kemudian dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang jarang (Asem Arang), sehingga daerah tersebut diberi nama Semarang.” Rani menjawabnya dengan penuh semangat.


“Aku salut padamu. Memang tak diragukan lagi kemampuanmu dalam bidang sejarah, Nona. Namun kali ini sepertinya Anda masih belum beruntung. Konon katanya, pada dahulu kala di kota ini, ada seorang penduduk yang kehausan karena telah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Ketika rasa dahaga menyerangnya akhirnya dia membeli es dawet, mengetahui orang itu sangat kehausan, si penjual es dawet memanfaatkan kesempatan emas ini, tidak tanggung-tanggung es dawet itu dijual dengan harga sepuluh kali lipat dari harga biasanya, coba kau bayangkan, Nona betapa tidak beradabnya si penjual es dawet. Kemudian secara reflek si pembeli berkomentar, “Asem ik Larang.” Dan sejak saat itulah kota ini disebut Semarang.” Aku bercerita menggebu tak kalah semangatnya dibanding Rani.


Rani terlihat manyun, aku cekikikan puas melihat raut mukanya yang sewot. Namun itu tak bertahan lama, sebentar saja dia sudah terlihat ‘jinak’ dan ikut tertawa bersamaku.


Kita lupakan sejenak perihal asal-usul nama kota semarang, mobil terus melaju, Rani memberitahuku bahwa kita sekarang sedang di Jalan Imam Bonjol. Mobil berjalan lurus ke arah selatan. Setelah beberapa lama, kini aku telah berada di tengah kota semarang, berdiri Tugu Muda dengan gagahnya. Rani membiarkanku dengan segala kekaguman. Setelah mobil berbelok ke arah timur, rasa takjubku membuncah, dari sela-sela pagar besi terlihat sebuah bangunan menjulang tinggi. Inikah yang dijuluki sebagai “Mutiara dari Semarang"
                                                                        >----I>

Saat ini aku benar-benar terpaku, ingatanku berlari pada hari-hari yang lalu.


Halaman dua


Tak kusesali di sini selama sisa usiaku..tempat jiwa ini berlabuh..kokoh menjulang tinggi..

Lawang Sewu




Walaupun tidak sama persis dengan goresan gambar pada buku itu aku bisa mengenalinya. Terlihat kurang terawat namun bekas garis-garis keindahan masih terpancar di sana. Sisa-sisa kejayaan di masa lalu.


Rasa lelah setelah melewati perjalanan yang bisa dibilang tidak mudah belum hilang namun aku merasa sangat sebanding dengan yang apa yang bisa kulihat di hadapanku. Mungkin jarak Kota Malang menuju Kota Semarang tidak lah jauh. Walaupun begitu kondisi keluargaku yang sedang kacau menyebabkan jarak kedua kota seolah bermil-mil dan tak mungkin terjangkau. Untuk biaya sekolah saja susah bagaimana mungkin aku masih tega untuk membebani ibu dengan biaya perjalanan menuju Semarang. Jadi semenjak kutemukan buku usang, yang membuat jiwaku penasaran setengah mati, kupendam dalam-dalam semua mimpiku tentang untuk bisa ke Semarang. 


Hingga hari itu tiba, dua hari sebelum aku berangkat menuju kota ini aku membaca sebuah berita yang mengejutkan di Koran, Mangkraknya Lawang Sewu Berbuntut Ricuh, di berita itu disebutkan bahwa Pemerintah Semarang berencana menjual Lawang Sewu yang sudah mulai tidak terawat kepada salah seorang investor lokal yang nantinya akan membangun Lawang Sewu menjadi sebuah hotel berbintang lima. Masyarakat kota Semarang masih pro dan kontra dengan keputusan tersebut. Kalau aku jelas langsung sependapat dengan pihak yang kontra, bagaimana mungkin sebuah bangunan bersejarah yang fenomenal serta merta akan dibiarkan hilang. Hal itu sangat mengusik hatiku sehingga tanpa perlu berpikir ulang, aku seketika itu juga memutuskan bagaimanapun caranya aku harus segera pergi ke Semarang untuk mencegah hal buruk terjadi pada Lawang Sewu.


Aku kumpulkan semua sketsa yang kubuat selama ini. Sebelumnya aku hanya berani menyimpannya di atas meja atau memajang beberapa di kamar tidurku, kini aku merasa benda-benda ini mungkin bisa sedikit menghasilkan uang. Jadi tak kutunda lagi untuk membawanya ke penerbit lokal, sebuah Majalah mingguan lokal di kotaku. Mereka menolak mentah-mentah karyaku. Aku tidak serta-merta menerima begitu saja, semua pendapat kunyatakan, dan setelah melalui kesepakatan yang alot akhirnya mereka memuat satu sketsaku yang menggambarkan keindahan Lawang Sewu. 


Aku mendapatkan uang untuk pergi menuju Semarang, memang tidak banyak namun aku rasa cukup untuk ongkos pergi dan pulang serta tinggal beberapa hari di sana. 


Perjuangan menuju ke Semarang nampaknya akan terasa panjang dan melelahkan. Berdesak-desakan di kereta ekonomi tidak lah menjadi masalah bagiku. Panas dan bau tidak enak tak bisa meruntuhkan niatku. Namun perjalan kali ini dimulai dengan satu hal yang sangat tidak mengenakkan.


“Tiket..tiketnya mana?” teriak seorang petugas kereta bertanya memeriksa tiket penumpang yang duduk tiga kursi di depanku.


Aku segera merogoh kantong menyiapkan tiketku namun betapa kagetnya kertas itu tak ada di sana. Dengan sedikit panik aku sekali lagi mencarinya dan memeriksa di dalam tasku. Masih saja tidak kutemukan, pasti jatuh ketika aku berdesakan naik kereta tadi. Hatiku berdegup kencang memikirkan segala kemungkinan jika ketahuan aku menumpang dengan tidak memiliki tiket. Aku yakin petugas itu tak akan mau tahu dengan semua penjelasanku. Jadi satu-satunya cara agar aku tetap bisa sampai ke Semarang adalah main kucing-kucingan dengan petugas kereta. Yup..petualangan yang menyenangkan telah dimulai pikirku. 


Memang sangat melelahkan harus menyusun strategi untuk menghindar setiap kali ada petugas yang memeriksa tiket. Namun kini aku bisa tersenyum puas telah mampu melewati semua itu.


Rani seolah bisa membaca perasaanku, dia tersenyum kemudian mengerlingkan mata memberi tanda kepadaku untuk segera memeluk mimpi selama ini.


Mobil berhenti tepat di sebelah kiri gedung. Aku segera beranjak keluar, kuayunkan langkah dengan pasti. Suasana sekitar gedung terlihat lengang.


Memang pantas jika bangunan ini disebut Lawang Sewu karena kulihat gedung ini mempunyai begitu banyak pintu serta busur-busur yang menyerupai rongga. Bangunan Lawang Sewu menganut gaya Romanesque Revival dengan ciri yang dominan yaitu memiliki elemen-elemen arsitektual yang berbentuk lengkung sederhana. Pada daerah pintu masuk di apit menara yang pada bagian atasnya membentuk “topola” persegi delapan berbentuk kubah. Untuk lantai bangunan dilapisi marmer cokelat dan hitam, serta keramik putih kusam berukuran 30 x 30 cm baik pada ruangan dalam maupun selasar.


Setelah memasuki gedung lawang sewu, kami disambut oleh seorang kakek tua. Melihat fisik kakek tua ini mungkin sudah berumur tujuh puluh tahun namun aku melihat pancaran sinar terang dari sorot matanya. 


“Perkenalkan nama saya Yusuf, orang-orang biasa memanggil Kek Ucup, saya juru kunci yang mengurus tempat ini.” Sapa kakek itu dengan ramah. Kulihat wajahnya begitu teduh.


Aku dan Rani saling bergantian memperkenalkan diri. Kemudian tanpa berbasa-basi aku segera mengungkapkan maksudku datang jauh-jauh ke tempat ini. Sejenak menekan egoku yang sudah lama ingin berkeliling menikmati setiap sudut tempat ini. Ada hal yang lebih penting dari itu, pikirku.


“Menurut informasi yang aku kumpulkan, Kek Ucup memiliki peran penting bagi keputusan yang nantinya akan diambil oleh Pemerintah Kota Semarang.” Kataku kepada beliau.


Aku membaca sebuah ekspresi berbeda dari wajahnya. Aku berkata-kata lagi, “ Aku tahu kakek sudah bertahun-tahun menjadi juru kunci tempat ini, jadi aku yakin pasti Kek ucup mengerti dengan maksudku, pasti Kek Ucup juga tak ingin jika benda yang sangat kita cintai ini akan musnah begitu saja.” 


“Percuma..semua sudah terlambat” kata beliau lirih sambil berlalu meninggalkan aku dan Rani.


Aku segera beranjak mengejar dan menghentikan langkahnya, “Apanya yang percuma Kek?Tidak ada kata terlambat untuk berjuang.”


“Benar kata Bee, kita harus bersatu menggagalkan semua ini!” tambah Rani


“Maaf, Kakek tidak bisa berjuang bersama kalian.” Aku membaca nada getir tirsirat dari kata-kata Kek Ucup namun beliau tetap saja kokoh dengan semua pendiriannya, untuk menyerah.


Sedikit lemas aku dan Rani keluar dari kompleks lawang Sewu. Orang yang menjadi salah satu kunci untuk lawang Sewu tetap bertahan telah putus asa, itu artinya aku dan Rani harus bejuang sendirian tanpa bantuannya, akan terasa lebih sulit namun aku yakin kita pasti bisa. Aku dan Rani berpegangan erat seolah saling berjanji untuk tetap kokoh berjuang mempertahankan Lawang Sewu.


Setibanya di rumah Rani, kami berdua terus memutar otak mencari cara yang efektif untuk mempertahankan Lawang Sewu.
                                                                             >----I>


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami berdua sudah sibuk di bundaran sekitar Tugu Muda. Hari ini kami menggelar pameran jalanan di sana. Dengan berbekal peralatan seadannya kami menampilkan berbagai sketsa tentang lawang sewu serta cerita mengenai betapa berharganya bangunan bersejarah tersebut. Pameran tersebut diramaikan dengan puisi—puisi Rani. Dengan indah dan menggetarkan dia membacakan puisi-puisinya. Waktu berlalu, hari sudah sore namun kita belum juga berhasil mengajak masa yang banyak untuk mendukung usaha kita tetap memperjuangkan keberadaan Lawang Sewu.


Dalam perjalanan pulang mobil yang kami berdua tumpangi tiba-tiba ditabrak oleh orang yang tak dikenal. Mobil yang menabrak kami segera melarikan diri dan menghilang. Kami sedikit shock dengan kejadian itu. Aku yakin orang itu sengaja menabrak mobil Rani. Karena jelas-jelas saat itu kami melaju dengan kecepatan normal di tengah lengangnya jalan. Sepertinya mobil itu sudah mengikuti sejak lama, kebetulan saat itu aku duduk di depan, ketika jalanan benar-benar sepi aku melihat dari kaca spion, mobil di belakang kami mempercepat laju dan sengaja menabrak. Satu hal yang sangat mengejutkanku, walau sedikir samar tertutup kaca mobil yang agak tebal, tapi aku yakin mengenal satu sosok yang mengemudikan mobil itu. Alhamdulillah kami tidak mengalami luka-luka. Mungkin ini salah satu bentuk teror atas untuk memperingatkan kami agar tidak ikut campur dalam urusan Lawang Sewu.


Hari kedua mengadakan pameran jalanan kami tetap semangat dan percaya usaha kami akan berhasil. Kejadian yang menimpa kami pada hari sebelumnya, bukan menjadi penghalang bagi langkah kami. Sepertinya Allah menjawab semua doa, tak disangka perihal pameran jalanan kami mulai tersebar ke berbagai penjuru kota, banyak yang mulai simpatik dengan usaha kami sehingga hari ini massa yang berkumpul untuk mendukung kami sangat banyak. 


Beberapa hari kemudian, kami bersama-sama sibuk bekerja keras meminta kepada Pemerintah Kota Semarang untuk mengurungkan niat menjual Lawang Sewu.


Rupanya semua perjuangan tak sia-sia, Pemerintah mengabulkan keinginan kami. Satu lagi yang membuatku sangat lega, Pemerintah berjanji akan merenovasi dan merawat kembali Lawang Sewu yang sempat terbengkalai.


Hari ketika diumumkan keputusan itu merupakan hari dimana seolah aku bernafas dengan sangat bebas. Kini saatnya bagi diriku untuk menjalankan misi selanjutnya. Mewujudkan mimpi yang sempat tertunda, menyatu bersama megahnya Lawang Sewu.
                                                                              >----I>


Keadaannya masih sama seperti beberapa hari yang lalu ketika aku pertama datang ke tempat ini. Hanya saja tanpa Kek Ucup, kakek tua itu dikabarkan secara tiba-tiba menghilang. Aku berdiri di tengah ruangan, terdapat tangga naik menuju lantai dua. Tangga itu terbuat dari beton dan dilapisi tegel warna abu-abu. Pada bagian puncak tangga terdapat jendela kaca patri. Kota-kota di Belanda Rotterdam, den Haag, dan Amsterdam digambarkan di kaca. Di bagian atas jendela ada sebuah lambang dan di bagian bawah dihiasi gambar dua sosok perempuan yang memakai jubah panjang, begitu detail dan kaya warna. Pada jendela kaca patri juga bertaburan hiasan bunga-bungaan berwarna hijau, kuning, dan merah. 


Terbasuh sudah satu dahaga atas satu Tanya yang muncul dari halaman pertama buku itu. Aku berlari menaiki tangga itu dan berdiri tepat di dekat kaca patri. Sungguh mempesona namun sangat disayangkan ada banyak noda di jendela kaca patri tersebut. 


Kemudian aku menuju sebuah tangga spiral yang telah berumur lebih dari 100 tahun. Tangga tersebut tertutup lapisan tebal debu dan jelaga. 


Aku melanjutkan petualangan dengan menjelajahi ruang bawah tanah. Dulunya pada masa Belanda ruang ini berisi air digunakan sebagai pendingin ruangan. Namun ketika dikuasai oleh Jepang, ruang bawah tanah beralih fungsi sebagai penjara, tempat penyiksaan, dan pembantaian. Di sana ada penjara jongkok, penjara berdiri, dan meja tempat pemenggalan kepala. Aku sedikit miris melihat benda-benda yang menjadi saksi kekejaman Jepang pada masa itu.
Walaupun sudah menyusuri semua ruangan, masih ada satu hal yang mengganjal di pikiranku dan Rani. Perihal harta karun yang terpendam di Lawang Sewu seperti yang tertulis di buku itu.



Halaman Lima Belas


Tersimpan harta yang tak ternilai di setiap sudut Layaknya para Bajak Laut dengan harta karun di kapalnya. Terlihat jelas namun tampak tersembunyi..


Akhirnya meluncur juga satu tanya yang dari tadi sudah berputar-putar di kepalaku,“Benda bulat berwarna putih kusam yang melingkar di kran wastafel menurutku adalah sebuah cincin platina yang disamarkan”


“Jendela yang indah di lobi sebenarnya bukan terbuat dari kaca patri. Sebenarnya kaca itu merupakan batu mulia yang dibuat mirip menyerupai kaca patri.” Rani pun ikut berasumsi.


“Ada banyak emas batangan tersembunyi di ruang bawah tanah, tadi ketika cahaya senter mengenai permukaanya ada kilau yang tidak mungkin bisa muncul dari logam baja biasa.” Kataku lagi.


Begitulah selama hampir seperempat jam, Aku dan Rani secara bergantian mengungkapkan semua pendapat kita.


Mata kami berdua segera memelototi lagi kalimat dalam buku itu, waktu pun perlahan bergulir, kami tetap masih belum bisa mengerti. Kemudian entah datang ilham dari mana, secara bersamaan aku dan Rani tersenyum dan saling memandang. 


Kami baru menyadari bahwa sebenarnya yang dimaksud dengan Harta Karun itu adalah Gedung Lawang Sewu ini sendiri. Satu persatu terlintas betapa menakjubkan semua yang ada di sini, peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya. Namun saat ini mulai terlupa dan diabaikan oleh anak bangsa.


Kami saling pandang dan tersenyum. Tak ada kata yang keluar dari mulut kami. Namun aku bisa merasakan dan mengerti apa yang ada dalam pikiran kami masing-masing. 


Sebuah Janji untuk mengabdi sepenuh hati, berjuang mempertahankan keberadaan Mutiara dari Semarang, membuat anak-anak bangsa kembali peduli.


Seminggu setelah kembali ke kotaku, aku mendapat telepon dari Rani. Dia mengabarkan kalau Kek Ucup telah ditemukan meninggal bunuh diri dengan menyayat nadinya. Belakangan diketahui dari goresan darah pada dinding jika sebenarnya investor yang hendak membeli lawang sewu adalah kakaknya. Selama ini dia tertekan berada antara dua perasaan yang sangat bertolak belakang. Paksaan dari saudaranya dan kecintaannya pada Lawang Sewu yang selama ini sudah seolah menjadi bagian hidupnya. (Malang, 2010)

Rabu, 27 Juli 2011

PESONA



Sering kita berdoa 
mendambakan bertemu dengan seseorang yang kita inginkan 
namun Tuhan selalu tahu yang kita butuhkan
Tak kan pernah tertukar 
mempertemukan dengan seseorang yang tepat.  
      Sepanjang usia aku belum pernah sekali pun bermimpi untuk bertemu dengan seseorang yang hebat, Mbak  Clara Ng. Bukan karena aku terlalu takut mimpiku tak kan terwujud namun hingga sesaat sebelum pertemuan itu, aku benar-benar tak mengenalnya.  
      Sabtu, 21 Mei 2011
      Tak ada yang lebih indah dari terus memejamkan mata, sekadar memanjakan diri menikmati hari libur. Tidak untuk hari ini, agenda penting telah menanti. Sekitar 45 menit menyusuri jalan, akhirnya sampai juga di Ria Djenaka Coffe House and Resto,Malang. Semangat menggebu menyelimuti diri, di depan pintu masuk melambai spanduk 'Kelas Kreatif Fiksimini-Menulis Fiksi Itu Mudah'. Di bagian bawah spanduk ada beberapa nama penyaji materi, antara lain : Clara Ng (Gerhana Kembar), Dewi Sekar (Perang Bintang), Nanang Suryadi (Kumpulan puisi Biar), dan Oddie Frente (Cemburu Itu Peluru).
      Berbekal hasil berselancar di internet, setelah check in dan memasuki ruang acara, aku bisa mengenali seorang wanita yang tengah sibuk membantu panitia membungkus hadiah dan memasukkan isi goodie bag adalah Mbak Clara Ng. Kala itu waktu sudah hampir menunjukkan pukul 9 namun suasana masih lengang, hanya ada aku dan tiga peserta yang lainnya. Kerelaan kaki beranjak ke tempat ini meski harus melewatkan nikmatnya bermalasan kala hari libur pun tak sia-sia, panitia membagikan buku gratis bagi sepuluh peserta pertama yang hadir.
      Sekitar pukul 09.30 sudah banyak peserta yang tiba dan panitia segera memulai acara. Acara dibuka dengan perrkenalan panitia dan komunitas Fiksimini Malang. Setelah itu acara demi acara bergulir mulai dari materi menulis fiksi (Clara Ng), materi karakter tokoh ( Dewi Sekar), isoma, jalan-jalan di Malang Tempoe Doeloe bersama Mbak Clara Ng, nonton film mini, materi puisi (Nanang Suryadi), dan ditutup dengan ceria oleh penampilan kocak Bang Oddie Frente (pengenalan Fiksimini). Semua  berjalan dengan menyenangkan. Peserta dan panitia terlihat antusias mengikuti setiap tahap acara, pada sesi tanya jawab pun peserta dan panitia selalu ramai memberondong pemateri dengan pertanyaan. Banyak pengalaman seru yang berharga selama acara, seperti ketika sesi puisi dan fiksimini tiba-tiba peserta harus membuat puisi mini dalam waktu yang singkat. Wajah-wajah tegang peserta yang mewarnai detik-detik itu. Ketika karya peserta dibedah, wajah tegang pun mencair berganti seulas senyum.
Satu hal yang istimewa telah terjadi hari itu. Perkenalanku dengan sosok Mbak Clara Ng.  Aku seperti tersihir saat menyimak penuturan beliau pada materi menulis fiksi. Terkesan dengan perkataan beliau yang penuh semangat, melecutku untuk berkarya. Buku Mbak Clara Ng bagai candu buatku, sekali membacanya membuatku ketagihan untuk terus memburu karya yang lain. Pada waktu acara jalan-jalan ke Malang Tempoe Doeloe pun Mbak Clara sangat ramah. Buat teman-teman yang penasaran dengan sosok yang telah mencuri hatiku bisa mengintip di http://clara-ng.blogdrive.com/.
Warisan berharga dari Mbak Clara Ng, Materi Menulis Fiksi Itu Mudah, yang terekam  olehku. Semoga bermanfaat.
MATERI
·      Novel merupakan bentuk prosa panjang yang di dalamnya terdapat unsur fiksi.
·      Fiksi -> tidak nyata tetapi di dalamnya ada kenyataan (truth). Di dalam fiksi ada ciri khas, ada aturan-aturan, dan bukan catatan harian. Ada bumbu drama di dalamnya.
·      Unsur-unsur Fiksi  :
1.      Setting             : menceritakan kapan dan di mana cetita akan terjadi. Unsure setting meliputi penglihatan, perabaan, penciuman, pendengaran, pengecapan.
2.      Tokoh               : dari tokoh yang kita buat bisa lahir sebuah setting. Setiap tokoh pasti ada kelebihan dan kekurangan, jangan menciptakan tokoh yang  terlalu sempurna membuat cerita menjadi membosankan. Tokoh yang lemah adalah tokoh yang menciptakan keadaan bikin ke arah buruk (konflik).
SETTING + TOKOH = KONFLIK/ PLOT (ALUR CERITA)
Contoh konflik :  manusia vs alam
                           manusia vs manusia lain
                           manusia vs hewan 

·      Ide-ide prima         :
1.      Ada konflik      : bertujuan untuk membuat pembaca percaya. Salah satu cara membuat konflik adalah dengan menciptakan masalah yaitu keinginan tokoh yang kuat untuk meraih sesuatu dan risiko kalau tidak terpenuhi.
2.      Opening           : yang perlu diingat, opening bukanlah prolog melainkan sejarah/ background/ alasan mengapa melakukan suatu hal. Suatu novel harus dimulai dengan pembukaan yang bagus.
3.      Closing             : kita harus menentukan ending dengan cermat sejak awal.
Ide -> plot-plot-plot -> adegan-adegan-adegan

·                     Sudut pandang (aku, kamu, mereka) : sesuaikan dialog dengan dialek. Dalam dialog jangan terlalu banyak dialek karena akan menjadi pengganggu. Novel bukan skenario jadi jangan terlalu banyak dialog, perbanyak setting. Hilangkan dialog yang tidak penting /kalau dihilangkan tidak berpengaruh. Untuk sudut pandang ke tiga, hati-hati dengan pergerakan yang terlalu cepat dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Jika ingin menulis cerita dalam cerita, coba ciptakan medium (dunia yang berbeda) dengan cerita utama.
·                    Kata keterangan dan kata sifat digunakan seminimal mungkin,lebih baik menggunakan kata kerja.

Setelah berjemur di Malang Tempoe Doeloe