Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja.........
Aku lahir dan tumbuh di kota yang jaraknya ribuan mil dari sana. Namun aku bahagia tiap kali mengunjungi Yogyakarta. Berkali-kali pergi ke sana tak membuatku jenuh.
Aku selalu merindukan malam-malam di Jogja, bersantai di angkrigan sekitar alun-alun untuk sekedar menyeruput hangatnya wedang ronde. Dimanjakan dengan pemandangan wajah-wajah ceria. Aku selalu tertarik dengan berbagai permainan sederhana di sana, becak2an ato sepeda tandem.
Makan lesehan hanya beralaskan tikar di trotoar jalan, suasana terasa lebih syahdu ketika tiba-tiba hujan turun dengan derasnya :D
Untuk wisata belanja juga tak kalah asyiknya, Pasar Bringharjo dengan berbagai macam barang dengan sentuhan batik, asesories, makanan, dll. Oh iya tempat ini juga sangat tepat menjadi tujuan untuk yang sedang mencari souvenir pernikahan, barang-barangnya beraneka macam dan tentunya dengan harga yang lumayan terjangkau.
Yang tak kalah mempesona ketika kita menyusuri kawasan Malioboro. Berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga,
Malioboro menjadi kembang yang pesonanya mampu menarik wisatawan. Tak
hanya sarat kisah dan kenangan, Malioboro juga menjadi surga cinderamata
di jantung Kota Jogja.
 |
| Seorang Ibu menunjukan proses membatik (@Mirota Batik) |
 |
| Sarapan pagi menu khas Gudeg Jogja (belakangan baru tahu ternyata ini makanan fav. suami tercincah) |
Benteng Vredeburg
Bangunan yang terletak tepat di seberang Istana Kepresidenan Yogyakarta,
merupakan salah satu bangunan yang menjadi wisata arsitektur di Kawasan
Nol Kilometer atau Jalan A. Yani, seruas Jalan Malioboro. Bangunan yang
dulu dikenal dengan nama Rusternburg (peristirahatan) dibangun pada
tahun 1760. Kemegahan yang dirasakan saat ini dari Benteng Vredeburg
pertama kalinya diusulkan pihak Belanda melalui Gubernur W.H. Van
Ossenberch dengan alasan menjaga stabilitas keamanan pemerintahan Sultan
HB I. Pihak Belanda menunggu waktu 5 tahun untuk mendapatkan restu dari
Sultan HB I untuk menyempurnakan Benteng Rusternburg tersebut.
Pembuatan benteng ini diarsiteki oleh Frans Haak. Kemudian bangunan
benteng yang baru tersebut dinamakan Benteng Vredeburg yang berarti
perdamaian.
Benteng Vredeburg ini memiliki denah berbentuk persegi dan menghadap
barat. Sebelum memasuki pintu gerbang utama terdapat sebuah jembatan
sebagai jalan penghubung utama arus keluar masuk Benteng Vredeburg. Ciri
khas pintu gerbang ini bergaya arsitektur klasik Eropa (Yunani-romawi).
Hal ini dapat dilihat melalui bagian tympanium yang disangga empat
pilar yang bergaya doric.Sejarah kepemilikan Benteng Vredeburg adalah
milik Kasultanan Yogyakarta, tetapi atas kepentingan Belanda maka
benteng ini berpindah tangan pada Pemerintahan Belanda (VOC) dibawah
pengawasan Nicolaas Harting, Gubernur Direktur Pantai Utara Jawa. Pada
saat masih berfungsi sebagai benteng, bangunan ini dikelilingi oleh
parit yang berfungsi sebagai pertahanan awal dari serangan musuh. Namun
sekarang parit tersebut hanya tersisa di bagian depan gerbang utama dan
hanya berfungsi sebagai drainase saja.
Sampai saat ini masih kita jumpai bastion yang berada di keempat sudut
benteng. Keempat bastion itu diberi nama Jayawisesa (barat laut),
Jayapurusa (timur laut), Jayaprokosaningprang (barat daya), dan
Jayaprayitna (tenggara).Pada bagian dalam benteng terdapat bangunan yang
disebut gedung Pengapit Utara dan Selatan. Bangunan ini pada mulanya
diperkirakan digunakan sebagai kantor administrasi. Berdasarkan hasil
penelitian bentuk asli, bangunan yang ada merupakan bentuk asli dengan
ornamen gaya Yunani masa Renaisance. Hal ini menunjukkan usianya yang
relative lebih tua dan lebih dekoratif dibandingkan dengan bangunan yang
lain. Dari masa ke masa benteng ini mengalami perubahan fungsi dan
bentuk sesuai keadaan politik saat itu. Seperti yang dijumpai pada masa
sekarang, benteng ini telah berubah fungsi menjadi museum.(teks oleh Aan Ardian/www.kotajogja.com)
 |
| Megahnya Museum Vredeburg |
 |
| Di antara patung raksasa Jenderal Sudirman dan Urip Sumohardjo |
 |
| Feri memejamkan mata menikmati semilir angin :p |
 |
| Ruang Diorama 4 |
 |
| Mesin Ketik Merek Royal, digunakan pd awal berdirinya Surat Kabar Kedaulatan Rakyat |
 |
| Taman Bermain di bagian belakang Museum |
 |
| melepas lelah di trotoar jalan Malioboro |
 |
| Sejak kapan ya ada Patung Selamat Datang Jogja di sini??? :p |
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks for reading this article :)