Senin, 24 September 2012

Belajar dari Alam yang Kudatangi..Mengeja setiap Tempat yang Kukunjungi.. (YOGYAKARTA I)

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja.........

Aku lahir dan tumbuh di kota yang jaraknya ribuan mil dari sana. Namun aku bahagia tiap kali mengunjungi Yogyakarta. Berkali-kali pergi ke sana tak membuatku jenuh.
Aku selalu merindukan malam-malam di Jogja, bersantai di angkrigan sekitar alun-alun untuk sekedar menyeruput hangatnya wedang ronde. Dimanjakan dengan pemandangan wajah-wajah ceria. Aku selalu tertarik dengan berbagai permainan sederhana di sana, becak2an ato sepeda tandem.
Makan lesehan hanya beralaskan tikar di trotoar jalan, suasana terasa lebih syahdu ketika tiba-tiba hujan turun dengan derasnya :D
Untuk wisata belanja juga tak kalah asyiknya, Pasar Bringharjo dengan berbagai macam barang dengan sentuhan batik, asesories, makanan, dll. Oh iya tempat ini juga sangat tepat menjadi tujuan untuk yang sedang mencari souvenir pernikahan, barang-barangnya beraneka macam dan tentunya dengan harga yang lumayan terjangkau. 

Yang tak kalah mempesona ketika kita menyusuri kawasan Malioboro. Berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga, Malioboro menjadi kembang yang pesonanya mampu menarik wisatawan. Tak hanya sarat kisah dan kenangan, Malioboro juga menjadi surga cinderamata di jantung Kota Jogja.
Seorang Ibu menunjukan proses membatik (@Mirota Batik)

Sarapan pagi menu khas Gudeg Jogja (belakangan baru tahu ternyata ini makanan fav. suami tercincah)

Benteng Vredeburg

Bangunan yang terletak tepat di seberang Istana Kepresidenan Yogyakarta, merupakan salah satu bangunan yang menjadi wisata arsitektur di Kawasan Nol Kilometer atau Jalan A. Yani, seruas Jalan Malioboro. Bangunan yang dulu dikenal dengan nama Rusternburg (peristirahatan) dibangun pada tahun 1760. Kemegahan yang dirasakan saat ini dari Benteng Vredeburg pertama kalinya diusulkan pihak Belanda melalui Gubernur W.H. Van Ossenberch dengan alasan menjaga stabilitas keamanan pemerintahan Sultan HB I. Pihak Belanda menunggu waktu 5 tahun untuk mendapatkan restu dari Sultan HB I untuk menyempurnakan Benteng Rusternburg tersebut. Pembuatan benteng ini diarsiteki oleh Frans Haak. Kemudian bangunan benteng yang baru tersebut dinamakan Benteng Vredeburg yang berarti perdamaian.

Benteng Vredeburg ini memiliki denah berbentuk persegi dan menghadap barat. Sebelum memasuki pintu gerbang utama terdapat sebuah jembatan sebagai jalan penghubung utama arus keluar masuk Benteng Vredeburg. Ciri khas pintu gerbang ini bergaya arsitektur klasik Eropa (Yunani-romawi). Hal ini dapat dilihat melalui bagian tympanium yang disangga empat pilar yang bergaya doric.Sejarah kepemilikan Benteng Vredeburg adalah milik Kasultanan Yogyakarta, tetapi atas kepentingan Belanda maka benteng ini berpindah tangan pada Pemerintahan Belanda (VOC) dibawah pengawasan Nicolaas Harting, Gubernur Direktur Pantai Utara Jawa. Pada saat masih berfungsi sebagai benteng, bangunan ini dikelilingi oleh parit yang berfungsi sebagai pertahanan awal dari serangan musuh. Namun sekarang parit tersebut hanya tersisa di bagian depan gerbang utama dan hanya berfungsi sebagai drainase saja.

Sampai saat ini masih kita jumpai bastion yang berada di keempat sudut benteng. Keempat bastion itu diberi nama Jayawisesa (barat laut), Jayapurusa (timur laut), Jayaprokosaningprang (barat daya), dan Jayaprayitna (tenggara).Pada bagian dalam benteng terdapat bangunan yang disebut gedung Pengapit Utara dan Selatan. Bangunan ini pada mulanya diperkirakan digunakan sebagai kantor administrasi. Berdasarkan hasil penelitian bentuk asli, bangunan yang ada merupakan bentuk asli dengan ornamen gaya Yunani masa Renaisance. Hal ini menunjukkan usianya yang relative lebih tua dan lebih dekoratif dibandingkan dengan bangunan yang lain. Dari masa ke masa benteng ini mengalami perubahan fungsi dan bentuk sesuai keadaan politik saat itu. Seperti yang dijumpai pada masa sekarang, benteng ini telah berubah fungsi menjadi museum.(teks oleh Aan Ardian/www.kotajogja.com) 




Megahnya Museum Vredeburg



Di antara patung raksasa Jenderal Sudirman dan Urip Sumohardjo

Feri memejamkan mata menikmati semilir angin :p


Ruang Diorama 4



Mesin Ketik Merek Royal, digunakan pd awal berdirinya Surat Kabar Kedaulatan Rakyat











Taman Bermain di bagian belakang Museum



melepas lelah di trotoar jalan Malioboro
Sejak kapan ya ada Patung Selamat Datang Jogja di sini??? :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks for reading this article :)